Siklotimia: Memahami Gejolak Emosi yang Sering Terabaikan

Pernahkah Anda merasa suasana hati Anda berubah-ubah seperti roller coaster? Suatu hari Anda merasa sangat bersemangat dan penuh energi, namun di hari berikutnya Anda merasa lesu dan kehilangan minat pada segalanya. Banyak orang menganggap ini hanya sekadar mood swing biasa akibat kelelahan. Namun, jika pola perubahan suasana hati ini terjadi terus-menerus dalam jangka waktu lama, bisa jadi itu adalah tanda dari siklotimia.
Kondisi ini sering kali terabaikan karena gejalanya tidak seekstrem gangguan bipolar. Meskipun demikian, gangguan ini tetap dapat mengganggu produktivitas dan kualitas hubungan sosial Anda. Di tengah kesadaran kesehatan mental yang meningkat di Indonesia pada tahun 2026, memahami gangguan suasana hati ini menjadi langkah awal yang sangat penting untuk mencapai kesejahteraan batin yang stabil.
Apa Itu Siklotimia dan Bagaimana Mengenalinya?

Secara medis, gangguan ini merupakan bentuk ringan dari gangguan bipolar. Seseorang yang mengalaminya akan merasakan siklus emosi yang naik turun, namun gejalanya tidak cukup parah untuk dikategorikan sebagai depresi berat atau mania. Oleh karena itu, banyak pengidap yang merasa mereka hanya pribadi yang “emosional” atau “sensitif” tanpa menyadari adanya masalah kesehatan mental yang nyata.
– Gejala Saat Fase Hipomania (Naik)
Saat berada di fase tinggi, Anda mungkin merasa sangat optimis dan memiliki kepercayaan diri yang meluap-luap. Selain itu, Anda mungkin berbicara lebih cepat dari biasanya dan merasa tidak butuh banyak tidur. Meskipun demikian, fase ini sering kali tidak berlangsung lama dan segera berganti dengan suasana hati yang berbeda drastis.
– Gejala Saat Fase Depresi Ringan (Turun)
Setelah rasa semangat itu hilang, pengidap akan masuk ke fase rendah. Anda mungkin merasa sedih, mudah tersinggung, atau sulit berkonsentrasi pada pekerjaan sederhana. Walaupun begitu, gejala ini biasanya tidak membuat seseorang sampai menarik diri sepenuhnya dari kehidupan sosial, sehingga orang di sekitar sering kali menganggapnya hanya sedang “bad mood” biasa.

Mengapa Seseorang Bisa Mengalami Gangguan Siklotimia?
Hingga saat ini, para ahli belum mengetahui secara pasti apa penyebab tunggal dari gangguan ini. Namun, kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan diyakini memegang peranan besar. Sebagai contoh, seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat gangguan bipolar memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami kondisi serupa.
Selain faktor keturunan, ketidakseimbangan kimia di otak seperti dopamin dan serotonin juga sangat berpengaruh. Selanjutnya, pengalaman traumatis atau tingkat stres yang ekstrem di lingkungan kerja tahun 2026 ini bisa menjadi pemicu munculnya siklus emosi pertama kali. Oleh sebab itu, sangat penting untuk mengelola stres sebelum gejalanya berkembang menjadi lebih kompleks.
Langkah Mengelola Perubahan Suasana Hati

Menghadapi kondisi ini memang tidak mudah, tetapi bukan berarti Anda tidak bisa hidup normal. Ada beberapa strategi yang dapat Anda terapkan setiap hari untuk menjaga agar grafik emosi Anda tetap berada di jalur yang stabil.
- Pertama, mulailah mencatat suasana hati Anda. Gunakan aplikasi mood tracker atau buku harian untuk melihat pola kapan emosi Anda naik dan turun. Dengan melakukan hal ini, Anda bisa mengidentifikasi pemicu stres tertentu.
- Kedua, terapkan pola hidup sehat secara disiplin. Tidur yang teratur adalah obat terbaik bagi sistem saraf. Sebab, kurang tidur dapat memicu fase hipomania yang melelahkan bagi tubuh.
Selanjutnya, hindari konsumsi alkohol dan kafein berlebihan. Zat-zat ini dapat memperburuk fluktuasi suasana hati yang Anda alami. Maka dari itu, pilihlah kegiatan relaksasi seperti yoga atau meditasi alam untuk menenangkan pikiran di sore hari. Pada akhirnya, disiplin diri adalah kunci utama dalam mengontrol kondisi mental Anda.
Solusi Medis untuk Penanganan Gangguan Emosi Kronis

Jika Anda merasa perubahan suasana hati ini sudah mulai merusak hubungan dengan pasangan atau menghambat karier, segera hubungi psikolog atau psikiater. Sebab, siklotimia yang tidak tertangani dapat berkembang menjadi gangguan bipolar tipe I atau II di masa depan.
Tenaga profesional biasanya akan memberikan terapi perilaku kognitif (CBT) untuk membantu Anda mengubah pola pikir negatif. Selain itu, dalam beberapa situasi, dokter mungkin memberikan obat penstabil suasana hati (mood stabilizers) untuk membantu otak bekerja lebih seimbang. Ternyata, banyak orang yang berhasil meraih kesuksesan besar setelah mereka belajar cara mengelola emosinya dengan tepat bersama bantuan ahlinya.